Senin, 22 Oktober 2012

KOMPAK di Youth Anti Corruption Camp


oleh : Asri Nuraeni/Ikom 2010

Suasana saat kegiatan berlangsung

Setelah KPK mendapat banyak dukungan dari publik gara-gara mendapat gempuran dari kepolisian, Selasa (09/10/12), KPK menyelenggarakan Youth Anti Corruption Camp untuk pertamakalinya di Ciawi Bogor. Acara ini berlangsung selama 4 hari dimulai sejak 09 s/d 12 Oktober 2012. Hampir 100 peserta dari berbagai komunitas yang bergerak di bidang anti korupsi mengikuti kegiatan ini, yang kebanyakan merupakan mahasiswa dari berbagai Universitas. Dari Universitas Paramadina, yang menjadi delegasi adalah Asri Nuraeni dan Septi Diah Prameswari yang mewakili Komunitas Pemuda Anti Korupsi (KOMPAK) Paramadina.

KOMPAK Paramadina, merupakan sebuah komunitas yang dibangun berdasar atas keprihatinan akan begitu banyaknya masalah korupsi di tanah air. Dengan adanya sinergi di antara mahasiswa, diharapkan komunitas ini bisa menanamkan nilai-nilai integritas, dan mengimplementasikannya mulai dari hal-hal kecil. Seperti tidak menyontek saat ujian.

Di hari pertama, acara berlangsung meriah. Dimulai dengan games-games yang mendekatkan peserta dan membuat suasana menjadi lebih cair. Acara kemudian dibuka oleh ketua KPK, Abraham Samad pada sore harinya.

Abraham Samad menjelaskan bahwa yang menjadi latar belakang terjadinya korupsi adalah gaya hidup masyarakat yang cenderung hedonis dan konsumtif. Hedonisme ini yang membuat masyarakat cenderung fokus pada kepemilikan barang-barang tertentu yang dianggap bisa meningkatkan prestisenya, begitu pula dengan budaya konsumtif, dimana individu terdorong memenuhi hasrat konsumsinya, diluar pertimbangan fungsi produk yang dikonsumsi. Cara pandang masyarakat yang terkadang salah kaprah ini, seperti pandangan tentang dokter yang sukses adalah yang berhasil menjadi kaya dari profesinya, padahal sejatinya kesuksesan seseorang itu tidak dilihat dari sisi materi, tetapi bagaimana dia mempertahankan kejujuran, idealisme, dan integritasnya. “Kita perlu mengubah persepsi yang keliru ini.” tegas Abraham Samad.
Saya dan teman-teman Kelompok 7
Dari kiri depan : Bella (UB), Uti (UI), Mba Yani (mentor dari DT), Saya, Ferdi (STAN), Putu (Unud), Sidiq (PNJ), Herman (UGM), Wachid (Undip), Yogi (Unand), Melyan (Bengkulu). dan Mas Danny (mentor dari KPK).

Acara di hari pertama, berlangsung sampai dengan malam hari. SIMPONI (Sindikat Musik Penghuni Bumi) menjadi pemateri di sesi kedua. Di sesi ini, ditegaskan bagaimana perbedaan antara ‘anak muda’ dan ‘orang tua.’ Anak muda yang mempunyai sense dan merespon perubahan, sedangkan orang tua cenderung berkomentar dan melakukan kontrol. Anak muda yang memimpikan masa depan, mencari solusi dari masalah, mereka yang tidak kehabisan energi, yang lebih banyak aktifitasnya dibandingkan dengan istirahatnya, dan selalu melihat adanya kesempatan. Tetapi, yang berlaku disini bukanlah usia biologis, tetapi semangat muda, walaupun sudah tidak muda lagi.

SIMPONI merupakan sekumpulan musisi dan penikmat musik yang juga berkontribusi dalam pendidikan anti korupsi dan masalah lingkungan di Indonesia. Lagu ‘Verdict : Virus’ yang diciptakannya, pernah mendapat penghargaan sebagai Juara kedua Kompetisi Internasional Musik Anti Korupsi di Belgia. “Perjuangan melawan anti korupsi itu tidak berbeda dengan bermain bola, kita harus berbagi peran, dan kami memilih seni sebagai jalan perjuangan kami.” Ujar salah satu personel SIMPONI.

Acara di hari pertama, ditutup dengan evaluasi per kelompok. Dengan tenaga yang tersisa, mereka masih semangat memperbincangkan apa yang telah di dapat di hari itu. 

5 komentar:

  1. Aci,ijin copy sebagian catetan youthcamp ini ya. buat laporan perjalanan dinas. ak udah agak lupa urutan acaranya. hehe
    :)

    BalasHapus
  2. Nah, setuju tuh ma statement sekampung saya.. *ehehehe

    BalasHapus
  3. @Chaerul : ciee..yang orang sekampung..:)

    @Rona : Oka Ron..:D

    BalasHapus

Senang jika anda mau meninggalkan jejak di postingan ini..:)

Copyright © 2014 Jurnal Asri