Senin, 22 Oktober 2012

Gaya Hidup & Mitos Cantik Perempuan di Media

Twiggy, model yang menjadi ukuran untuk manequin

Orang-orang saat ini hidup dengan beragam gaya hidup. Gaya hidup pecinta lingkungan (green life), gaya hidup hedonis, gaya hidup agamis, dan mungkin masih banyak lagi gaya hidup yang lain. Nah, Ada juga gaya hidup perempuan-perempuan Indonesia yang mengejar Mitos Cantik yang disampaikan oleh media (Mainstream, maksudnya TV).

Sebelum jauh-jauh membahas gaya hidup, ada baiknya kita mengetahui apa arti gaya hidup itu. Gaya hidup dalam KBBI merupakan pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup/life style, dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhusuan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.

Apa hubungannya gaya hidup dengan mitos cantik perempuan?
Beranjak dari mitos terlebih dahulu, mitos merupakan sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat, namun ketika ditelusuri lebih lanjut, hal itu tidaklah ilmiah, atau bahkan tidak ada. Mitos awalnya merupakan usaha untuk menjelaskan suatu hal, yang sebelumnya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. 

Kecantikan perempuan Indonesia, sebenarnya merupakan suatu hal yang relatif. Masyarakat yang terdiri dari berbagai macam ras (ras mongoloid, dan campuran ras austroloid dan ras negroid) tentu mempunyai standar cantiknya masing-masing. 

Namun, coba tengok iklan-iklan di TV, dan majalah sekarang. Cantik yang ditampilkan lebih Universal (satu), dan jika dirinci, perempuan yang cantik adalah perempuan yang berkulit putih, langsing, berambut panjang. (Bukan begitu bukan?). 

Ada beberapa teori dalam komunikasi yang bisa menjelaskan fenomena ini. Check this out!

1. Teori Kultivasi
Teori ini menjelaskan bagaimana dampak dari menyaksikan TV pada persepsi, sikap, dan nilai-nilai yang dianut seseorang. Tim Gerbner mengatakan bahwa pemirsa berat “heavy viewer” televisi pada hakikatnya memonopoli dan memasukkan sumber-sumber informasi, gagasan, dan kesadaran lain. Dampak dari keterbukaan ke pesan-pesan yang sama menghasilkan apa yang oleh para peneliti disebut dengan kultivasi, atau pengajaran pandangan bersama tentang dunia sekitar, peran-peran bersama, dan nilai-nilai bersama. Berdasarkan teori ini, pesan-pesan yang disampaikan melalui media ini, mempengaruhi persepsi pada tahap awal (persepsi), kemudian sikap, dan nilai-nilai yang dianut seseorang, kemudian berakhir di perubahan perilaku. 

2. Teori Framing (Pembingkaian Media)
Bingkai (frame) kadang-kadang ditentukan oleh mereka yang berkuasa dan kemudian diangkat dan dikirimkan oleh media. Pembingkaian bukan hanya dalam hal pembingkaian sebuah berita saja, tetapi juga dalam pembingkaian pesan ‘cantik’ di media. Penguasa dalam hal ini merujuk pada pengiklan (pemilik modal) yang mendirect media untuk menyebarluaskan pesan-pesan yang dikehendaki.

Teori ini menunjukkan bagaimana pesan ‘cantik’ dikemas dan disampaikan pada khalayak. Pesan yang disampaikan pada akhirnya, benar-benar berpengaruh bagi laki-laki dan perempuan. Perempuan menjadi terdorong untuk membeli produk kecantikan dan pelangsing tubuh yang diiklankan, dan begitu juga dengan persepsi cantik yang ada di benak laki-laki. 


3. Teori Konstruksi Sosial Media Massa
Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge. Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyarakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif. 

Teori ini menunjukkan, bagaimana cantik yang dikonstruksi oleh media, yaitu perempuan dengan tubuh langsing, kulit putih, dan rambut panjang. Walaupun sebenarnya ada beberapa pendapat lain, yang meng-konstruksi sendiri konsep cantik. Misalnya, kulit cantik itu bukan harus putih, tetapi terawat. 


Dampak terhadap Perilaku (Dampak yang paling terlihat : Anoreksia & Bulemia)
Ketika memasuki usia remaja, (masa pubertas), remaja menjadi sangat concern atas pertambahan berat badan, terutama remaja putri, karena mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak, sehingga mudah menjadi gemuk apabila mengonsumsi makanan yang berkalori tinggi. Pada kenyataannya kebanyakan wanita ingin terlihat langsing dan kurus karena beranggapan bahwa menjadi kurus akan membuat mereka bahagia, sukses dan popular. Gangguan yang paling terlihat yaitu anoreksia dan bulemia.

Anoreksia nervosa yaitu terjadi hilangnya nafsu makan atau terganggunya pusat nafsu makan. Hal tersebut terjadi karena konsep yang terputar balik mengenai konsep penampilan tubuh, sehingga penderita mempunyai rasa takut yang berlebihan terhadap kegemukan. Penderita anoreksia sadar mereka lapar, namun rakut untuk memenuhi kebutuhan makan mereka, karena bisa berakibat meningkatnya berat badan. Penderita anoreksia dapat menurunkan berat badannya 25% hingga 50% dari berat badannya.

Penderita bulemia biasanya memiliki berat badan yang stabil atau ideal. Meski memiliki nafsu makan yang besar dan tidak terkendali, penderita bulemia berusaha menurunkan berat badannya. Entah itu dengan menggunakan obat pelangsing atau dengan meuntahkan makanannya kembali setiap makanan yang sudah dimakan. Rasa tidak puas akan bentuk tubuh sendiri dan ketidakmampuan untuk mengontrol makanan yang masuk sering dituding sebagai penyebab utama terjadinya bulemia. Selain itu, kepercayaan diri yang rendah dan ketidakmampuan seseorang untuk mengatasi stress juga disebut sebagai penyebab bulemia. 

Point-point Penting : 

  • Media melakukan framing terhadap konsep cantik perempuan. Konsep ini disesuaikan dengan kepentingan pengiklan yang kebanyakan adalah produk kecantikan (pemutih kulit dan pelangsing tubuh, dan produk rambut).
  •  Sesuai dengan teori Kultivasi, media mempengaruhi persepsi orang tentang ‘cantik’ baik bagi laki-laki dan perempuan. Perempuan digiring untuk memenuhi konsep cantik tersebut, dan laki-laki digiring untuk menyukai perempuan dengan konsep cantik tersebut.

  • Televisi, film dan majalah pop, penuh gambaran tentang  remaja dan wanita yang secara tipikal/khas ditampilkan dalam sosok putih, sangat ramping, supermom.
  • Dampak langsung yang terlihat adalah dengan banyaknya wanita yang membeli dan mengonsumsi produk kecantikan yang dijual, bahkan sampai munculnya penderita anoreksia dan bulemia, dan perempuan yang ingin mengubah penampilannya dengan cara instan melalui suntik silikon.







0 comments:

Posting Komentar

Senang jika anda mau meninggalkan jejak di postingan ini..:)

Copyright © 2014 Jurnal Asri