Sabtu, 26 Mei 2012

My Task

Ujian akhir semester 4 alhamdulillah hampir selesai, tinggal satu mata kuliah (kewarganegaraan) dan hanya menyerahkan makalah saja. Thankyou God, Allah SWT atas semua nikmat kesehatan, pikiran, gagasan-gagasan yang dikaruniakan. (semoga nikmat ini selalu kau tambah).

Hmm, ga kerasa nih, I've almost 2 years here.
Tapi, walaupun uas hampir selesai, bukan berarti ga ada tugas yang lain, I still have many task, and always there's some task. 

(i just wanna share about my task, and hope i can finish it well)..

1. I always hope i can write a novel, actually i have begin my novel 1 years ago, but my novel never ending, stuck, and edit. Bulan ini ada lomba pembuatan novel yang diadakan Mizan, hope i could finish it.
mau tau ttg ceritanya? sebenernya ga jauh-jauh temanya dari cinta, putus asa, struggle, about journalism, and civil engineering. Walaupun bukan dari jurusan civil, i interest to write about it. ada cerita tentang konflik ibu dan anak, cinta beda agama, perjodohan, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang disayang.

2. Finish web pondok, hope it will be finish, before i'm holiday in ciamis.

3. jadi panitia PLC tahun ini, semoga acaranya lancar..

4. Bikin konsep Movement sama Dhila, sama Bara.

5. Bikin konsep KOMPAK sama program bimbel DKM.

6. save my money to go to Pare, :) want to be donor?

7. Baca buku-buku tentang pertambangan..:)

8. Nulis tentang Globalisasi hubungannya dengan budaya luar (musik, khususnya konser2 musik dari luar) yang sedang ramai di Indonesia. Ngirim ini ke media, misalnya Tempo. Semanceuu..:)

9. Nulis tentang : perkuliahan semester ini, matkul dan insight apa yang didapat, dan sedikit cerita pengalaman dengan dosennya.
Then, nge post tentang makalah2 yang udah dibuat, tapi menjadi versi yang lebih nyaman dibaca oleh pembaca sekalian..:)
Then, ceirta tentang "do or do nothing is always get comment from another people, so just do it for our self.."
Nulis tentang organisasi Kampus, dan perubahan KOMPAK (include nulis firs acaranya).

10. Nulis tentang seminar "Korupsi di sektor pertambangan ke Kompas Kampus."



Kamis, 17 Mei 2012

am i not to be a good mother?


Saya sempat kaget atau mungkin juga shock saat membaca postingan blog Bunda (pembina kami di Forum Indonesia Muda). Beberapa saat saya mengelak, menolak... bahwa diam-diam saya merasa tersindir dengan apa yang ditulis disana. Am i not to be a good mother?

Disana bunda menulis "Yang tabu dilakukan calon Ibu bermutu." yaitu pertama, mengejar laki-laki idaman seberapapun hebatnya dia. 
"Jika preman saja tak sudi dikejar-kejar, apalagi laki-laki sholeh, pinter, baik hati, setia, calon ayah teladan se dunia.Menginginkan kelak mendapatkan suami sholeh ? maka jadilah sholehah yang punya harga diri, berkualitas dunia akhirat, tahu bagaimana menjaga kehormatan dan kemuliaan dirinya."
Saya mungkin bukan orang yang mengejar-ngejar itu, tapi tidak juga termasuk ke dalam kategori shaleh yang dimaksud..:)

Yang kedua, bunda menulis : yaitu menunjukkan 'kegilaanmu' padanya. 


    "Jika dia tahu perasaanmu dan engkau terus terang menelanjangi hatimu padanya, maka laki-laki baik takkan pernah percaya, hal serupa takkan kau lakukan pada yang lain.
Jadi ..sembunyikanlah rahasia hatimu dengan aman, maka cinta sejati itu akan mencarimu dengan iman."
Honestly, i have ever been like this. Show my feel, show what i feel, cause i'm a people who will say what i'm feel. although just text him, just ask 'how are you?' or 'how's your study?'
I'm people with more low context than high context. 
Tapi, setelah mengetahui ini semua, setelah melewati beberapa renungan, setelah menyadari i think this is a better princip, i'll choose this. 
And, maybe someday, i will find the final anser, at the time. 


tentang Perkembangan eBook di Indonesia

                                                       image source : http://jchutchins.net

Awalnya, karena mendapat tugas di mata kuliah Ekonomi Industri Media Massa, dan harus mencari informasi tentang perkembangan eBook di Indonesia. Setelah mencari-cari, ternyata kurang lengkap..:( karena memang, eBook sendiri masih terbilang baru di Indonesia. Saya yakin, kebanyakan dari masyarakat Indonesia yang menggunakan eBook, lebih banyak menggunakan layanan eBook dari luar.

Ini, ada informasi dari berbagai sumber yang saya compile dari berbagai sumber, supaya memudahkan pembaca untuk memahami eBook secara komprehensif. Have nice to read..:)


Perkembangan Industri Ebook di dunia
Sebelum berbicara lebih jauh tentang eBook, sebenarnya apa pengertian dari eBook itu sendiri? Secara sederhana eBook dapat diartikan sebagai buku elektronik atau buku digital. Buku elektronik adalah versi digital yang umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang berisi teks atau gambar. Biasanya dalam format teks polos,*pdf, *jpeg, *lit, dan *html.

Sejarah penemuan eBook, merupakan sebuah ketidak sengajaan Michael S. Hart ketika ingin memuat deklarasi pendirian Amerika Serikat yang dimuat lewat mesin teletype dan ingin memuatnya via email, ternyata tidak bisa. Karena ingin menghindari tabrakan sistem akhirnya dia mendownload secara individual. Dari sinilah cikal bakal proyek Gutenberg, yang kemudian berdiri sendiri. Hingga tahun 1987, dia telah memuat 313 buku dalam penemuannya ini. Kemudian, dengan bantuan teman-temannya terbentuklah eBook.[1]

Proyek perkembangan eBook yang berhasil seperti Proyek Guttenberg, arXiv, dan The Million Book Project. Proyek Guttenberg merupakan layanan buku digital terbesar dan tertua yang mendukung free eBook. Ada lebih dari 25.000 buku digital dalam katalog onlinenya. (www.gutenberg.org). Sedangkan arXiv merupakan layanan buku digital yang ada di Universitas Cornell. Memberi akses terbuka terhadap 368.128 referensi elektronik dalam bidang fisika, matematika, sains komputer, dan biologi kuantitatif. Sedangkan The Million Book Project dikembangkan oleh Universal Library, sebuah perpustakaan digital dengan dipelopori oleh Universitas Crnegie Mellon di AS, Universitas Zheziang di China, Institute Sains di India, dan perpustakaan Alexandria.[2]

Jika ditelusuri lebih mendalam, ebook merupakan salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi dalam bentuk yang lebih ringkas dan dinamis. Ebook mampu mengintegrasikan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disampaikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional.

Berdasar jenisnya, ebook yang paling sederhana adalah yang hanya sekedar memindahkan buku konvensional ke dalam bentuk elektronik. Kenapa ebook menjadi lebih ringkas? Karena ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping cakra padat (compact disk) dengan kapasitas sekitar 700 MB, DVD berkapasitas 4,7 sampai 8,5 GB, maupun Flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai dengan 32 GB). Sedangkan bentuk yang lebih kompleks misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britanica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia. Format multimedia memungkinkan eBook menyediakan tidak saja informasi tertulis tetapi juga suara, gambar, movie, dan unsur multimedia lainnya.

Buku elektronik juga sebagai versi digital dari buku.[3] Dengan buku elektronik, tidak perlu lagi dibutuhkan kertas untuk menghasilkan bacaan. Oleh karenanya, perlu dibuat aplikasi buku elektronik berbasis web yang mendukung konversi dokumen *.doc  menjadi *.pdf. Dengan aplikasi ini, pembaca dokumen dapat membaca dengan efisien dan praktis.

eBook biasanya diterbitkan dengan salah satu cara dari dua cara seperti: Pertama, buku yang telah dicetak pada kertas kemudian diubah menjadi format eBook. Dengan semakin populernya eBook reader, maka semakin banyak buku cetak yang juga diterbitkan dan dijual dalam format digital (eBook).  Kedua, eBook yang memang dibuat oleh individu untuk keperluan pribadi maupun untuk tujuan komersial. Sejak pengguna internet berkembang dengan pesat, maka banyak orang yang berbagi pengetahuan dengan menggunakan eBook. Kelebihan utama dari eBook adalah kita bisa membaca pengetahuan dari orang-orang yang tidak memiliki akses untuk menerbitkan pengetahuannya dalam bentuk buku cetak.  

eBook sendiri terdiri dari banyak format (ada lebih dari 25 format) tetapi yang populer diantaranya adalah : EPUB, PRC/Mobi (format Mobipocket), AZW (format Amazon Kindle) dan tentu saja PDF (Portable Document Format).[4]

Membahas tentang eBook, tak terlepas dari perkembangan eBook reader, keduanya saling berkaitan.  eBook reader merupakan peralatan elektronik yang digunakan untuk membaca eBook. Apa perbedaan eBook reader dengan iPhone atau Laptop? eBook reader menggunakan teknologi khusus yang disebut E-Ink. E-Ink atau E-Paper adalah nama yang digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana sistem kerja eBook reader. Teknologi ini mampu mendisplay teks dan gambar secara bersamaan seperti halnya tampilan pada kertas atau koran.[5]

Apakah keberadaan ini menggeser perkembangan Buku konvensional?

Terlalu dini memang, jika mengatakan posisi eBook telah menggeser industri perbukuan di Indonesia. Sedangkan yang terjadi di AS menurut data pada Association of American Publisher pada bulan Februari tahun 2011 total penjualan eBook mencapai US$ 90,3 juta. Kondisi ini menjadikan buku digital sebagai format tunggal terbesar di AS untuk pertama kalinya, mengambil alih buku bersampul yang hanya mencetak perjualam US$ 81,2 juta. Tidak hanya itu, pasar eBook di Amerika mengalami pertumbuhan 202,3 persen dalam penjualan Februari dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu (2010).

Di Indonesia saat ini, sumber buku elektronik yang legal belumlah banyak, antara lain dirilis oleh Kementrian Pendidikan Nasional dengan dibukanya Buku Sekolah Elektronik (BSE). BSE adalah buku elektronik legal dengan lisensi terbuka yang meliputi buku teks mulai dari tingkatan dasar sampai lanjut.[6]

Untuk mengetahui struktur pasar eBook di Indonesia memang agak sulit, karena pasarnya sendiri masih dalam tahap awal perkembangan. Dari sekian banyak pengguna eBook di Indonesia, lebih banyak menggunakan penyedia layanan eBook dari luar diandingkan dengan yang tersedia di Indonesia.

Anyway, eBook telah berhasil menjadi sarana alternatif bagi para penulis untuk bisa membagi ilmunya. Tidak lagi terbatas dengan selera penerbit yang biasanya berlandaskan hitung-hitungan untung rugi. Sehingga, eBook menciptakan counter hegemoni atas pemilik modal (penerbit-penerbit besar).

Sumber :

Jumat, 11 Mei 2012

(MOZAIK BLOG COMPETITION) BUKU itu...? Partner in My Life




Kado apa yang kamu inginkan saat hari ulang tahunmu tiba? Pakaian? Jam tangan mewah? Boneka panda bulu berukuran besar? Atau kunci mobil beserta mobilnya? Hohoho, kalau minta kado mobil itu kebangetan kali ya, kecuali mintanya sama orang tua sendiri.

Bagi saya, setiap kado yang dipersembahkan oleh teman-teman selalu terasa spesial  (everyone like surprise isn’t it?), walaupun misalkan kado itu hanya berupa ucapan Happy Birthday, bersama sebuah cake mungil. It’s ok bagi saya. Tapi, akan sangat bahagia sekali jika kado itu berupa buku. Book is not only thing, but it’s offer you others, that knowledge. And finally, buku itu akan selalu mengingatkan saya bahwa ada orang-orang di sekitar with their love, and exactly i love them too!

Kuliah saya sekarang, memang mengharuskan saya membaca buku. Peminatan Kajian media yang saya ambil, mengharuskan saya membaca pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh seperti Karl Marx, Habermas, Adorno, Althusser, tetapi tentunya membaca pemikiran mereka dengan sumber kedua atau ketiga (bukan pertama), dimana pengantarnya adalah bahasa Inggris. Maka jadilah saya melewati malam-malam di Semester empat ini dengan lebih banyak begadangnya daripada tidur, hehe. Maklum, bahasa Inggris saya masih ancur, jadi harus lebih struggle lagi. Buku-buku yang menemani saya sewaktu kuliah ini, kebanyakan dalam bentuk eBook, sehingga memang lebih praktis dan tentunya lebih murah (haha, ketauan tukang download eBook gratisan nih!!). Terkadang, saya malas untuk membaca literatur-literatur itu, tapi mau bagaimana lagi, mosok kuliah ga baca buku toh?!

Awal mula saya suka buku, yaitu saat masuk SMP, saya mulai suka membaca cerpen. Dari situ, saya mulai melahap novel-novel teenlit macam Dealova, dsb. Beranjak SMA, saya mulai melahap novel-novel seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Pudarnya Pesona Cleopatra, HarPott, Hafalan Shalat Delisa, sampai langganan Majalah Annida.  Saya mencari hiburan dan pelarian lewat buku, karena selama SMP-SMA (6 tahun) saat itu, saya tinggal di Pondok Pesantren yang melarang santrinya membawa handphone, tidak ada Televisi, dan kepemilikan komputer di pondok masih bisa dihitung jari. Saya bersyukur sih, jadi selama kurang lebih enam tahun, saya menempa diri saya dengan media cetak, khususnya buku. “Witing tresno jalaran soko kulino” kalau orang Jawa bilang, lama-lama saya jadi suka buku termasuk buku-buku non-fiksi.

Dan semasa kuliah, saya bertemu dengan : Moga Bunda Disayang Allah, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin, novel karya Tere Liye, serta  Perempuan di Titik Nol, Bumi Manusia-nya Pramudya Ananta Toer. Ternyata, novel Perempuan di Titik Nol membawa saya ke kesadaran, bahwa selama ini selalu ada penindasan satu kelompok terhadap kelompok lain. Jika Karl Marx percaya adanya penindasan yang dilakukan oleh pemilik modal terhadap kaum buruh, novel ini membawa kesadaran pada seorang perempuan yang sangat tertindas oleh budaya patriarkhi dengan settingan Mesir. Sedangkan Pramudya Ananta Toer, membawa saya pada masa-masa lampau Hindia Belanda (Indonesia sebelum merdeka), dan mengajak saya mengetahui bagaimana kehidupan pribumi pada saat itu. Ada rasa kebanggaan yang kemudian tumbuh, sebagai bagian dari Indonesia.

Finally, i think, novel bring us an awareness. Awareness about everything. Bukankah novel atau produk-produk budaya lainnya merupakan alat perang wacana untuk menciptakan sebuah kesadaran? So, keep reading in order our knowledge always growingCause human without knowledge improvement is like zombie!!




Notes : artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis apa arti buku menurutmu : info lengkap di http://mozaikpublishouse.multiply.com


Sabtu, 05 Mei 2012

Dua Jam Bersama Ifa Avianti


Oleh : Asri Nuraeni*


Ifa Avianty, sosok yang tidak lagi muda tetapi tetap penuh semangat. Setelah sempat berkeliling mengitari pelosok-pelosok Museum Mandiri, Mba Ifa akhirnya menemukan TKP pelatihan FLP. Aksen Sundanya yang khas, membuat saya merasa dekat dengan beliau, padahal baru pertama kali saya bertemu dengannya. Kesan keibuan dan ketegasan langsung saya dapat, ketika Mba Ifa mengawali materinya.

Beberapa tips menulis novel yang disampaikan oleh beliau adalah pertama, harus jeli melihat ide. “Jangan pernah mengubur ide anda!” itu pesannya. Mba Ifa menceritakan kebiasannya yang suka menuliskan ide-ide yang seringkali muncul, di notes handphonenya. Suatu saat ide tersebut akan bermanfaat untuk memperkaya hasil karya sastranya. Bahkan, pernah ada novelnya yang baru rampung 5 tahun, karena beliau menuliskan bagia-bagian ceritanya di handphone.

Tips keduanya, yaitu asosiasikan ide anda! Novel tidaklah seperti cerpen yang hanya terdiri dari satu konflik dan tentunya harus terdiri dari multi konflik, sehingga nantinya mengalami klimaks, dan proses penyelesaian konflik bisa dilakukan satu persatu atau selesai secara bersamaan. Multi konflik itu, misalnya tema pencarian Tuhan, persaingan antara saudara kandung, cinta berbeda agama, dan finally diracik dalam sebuah novel.

Ketiga, perlunya ketelitian. Adanya data yang valid, tentunya berdasarkan riset (walaupun sederhana), serta kesesuaian dengan logika. Mba Ifa, mengingatkan kita tentang pentingnya fokus dalam menulis novel, karena penulis novel adalah pekerja seni dan penyeru kebaikan. Kita jangan terbuai dengan euforia kebahagiaan karena telah berhasil menerbitkan satu buah novel, kemudian sibuk dengan pencitraan di sosial media. Tetap fokus dan sibukkan diri dengan mempersiapkan diri untuk menghasilkan karya selanjutnya.

Keempat, berusaha menghidupkan novel kita. Berarti, tokoh/karakter yang ada dalam novel itu tidak harus menjadi manusia yang sangat-sangat ideal, justru ketika dia mempunyai kekurangan ini akan lebih memanusiakan tokoh-tokoh dalam novel itu. Lebih bagus lagi jika kita merincinya dalam sebuah pohon karakter.

Bertemu dengan Mba Ifa, pada akhirnya semakin mendorong saya untuk segera menyelesaikan project novel saya. Sebuah novel yang mengandung konflik keluarga, trauma masa lalu, perjodohan, dan cinta. Sebuah karya sastra yang baik tentunya tidak selesai secepat kilat, tetapi perlu proses kreatif yang memang memakan waktu. Dan pada akhirnya, si penulis harus tetap bertanggungjawab bukan hanya dalam menyelesaikan karyanya, tetapi juga ketika karya itu telah sampai di tangan pembaca dan tentunya bertanggungjawab pada Tuhannya.

* Mahasiswa Universitas Paramadina, Jakarta.

Senin, 23 April 2012

Tumblr Termahal yang Pernah Saya Beli


Minggu ini menjadi minggu yang tak terlupakan dalam hidup saya. Sulit dilupakan sepertinya.

Pertama, setelah akhirnya saya mendapatkan hasil dari jerih payah saya dalam mencari nafkah, (hehe..bahasa gue). Dari hasil yang saya dapat itu, saya membuat rekening baru dengan pertimbangan rekening saya itu akan saya gunakan untuk tabungan saya tanpa saya ambil uangnya, membeli beberapa baju, mengisi pulsa saya, dan membeli tempat minum baru dengan harga yang cukup mahal untuk sebuah tempat minum (sebut saja tumblr). 

Hari mengenaskan itu hari Rabu. dini hari saya mengerjakan tugas sosiologi media, saya membuat tulisan tentang refleksi terhadap wajah sinetron Indonesia. (bisa dilihat disini sinetron Indonesia) jam dua malam saya selsai mengerjakan tugasnya, dan kemudian saya mengemailkan tugas saya itu ke dosen saya. Done! tumben, malam itu saya malas mem-print tugas saya itu, kebetulan printer saya juga lagi eror, sampai-sampai harus ditampar-tampar dulu supaya mau print. Malas berurusan dengan printer, saya memutuskan untuk tidur. 

Esok hari, jam 12.45 seperti biasa saya dan 7 teman yang lain belajar Sosiologi media, dengan dosen yang excelent menurut saya, tapi dosen yang satu ini agak sulit ditebak. terkadang moodian, dan saya agak segan jika harus berurusan dengan beliau. Pernah suatu hari saya kena marah beliau, karena masalah miskomunikasi. Maklum,budaya di kampusnya, dengan budaya di kampus dimana saya belajar agak berbeda. di kampus, saya merasakan hubungan yang egaliter antara dosen dan mahasiswanya, jadi dosen tidak berhak marah jika ternyata ia yang salah, intinya lebih sportif. sedangkan dimana kampus dosen saya itu mengajar, posisi mahasiswa dengan mahasiswa tidak egaliter (sepertinya). pokoknya mahasiswa manut. 

Kembali ke cerita saya, ternyata teman-teman mengumpulkan tugas refleksi medianya dengan mengeprint tugas mereka, dan mengumpulkannya di akhir pertemuan. Saya bilang ke dosennya, "bu saya sudah email tugas saya, tadi jam dua malam..." tapi dosen saya itu tidak tampak mengindahkan perhatiannya, bahasa tubuhnya membuat saya pada akhirnya mengeprint tugas saya itu. 

Dari sini bencana dimulai. Karena tidak membawa netbook, karena cukup memberatkan tas saya, saya meminjam netbook teman saya. nama netbooknya si Unyil, sepertinya lepi kesayangan teman saya. karena si dosen buru-buru hendak pergi, maklumlah orang sibuk, saya segera pergi ke tempat print, si Unyil saya masukkan ke tas saya bersamaan dengan tumblr saya. 

Tiba di tempat print, ada gemerecik air terdengar. rupanya air dalam tumblr saya tumpah, benar saja air sudah menggenangi tas saya. Binder, tempat pulpen, buku, dan si Unyil saya keluarkan semuanya. BASAH!! Saya hanya sempat mengelap seadanya si Unyil dengan tissue, karena dosen sibuk saya sedang buru-buru. khawatir tugas saya malah tidak terkumpul. Done! tugas terkumpul, kemudian saya berjalan ke arah lanmer (lantai merah) dimana ada teman-teman berkumpul., si Unyil sedang di lap-lap oleh teman saya. 

ternyata si Unyil tak bisa hidup. pingsan, maklum. 

selang beberapa hari, saya terbangun dengan miscall teman saya. saya tak sempat mengangkatnya, memang malas juga ngobrol langsung. ternyata reparasi si Unyil membutuhkan biaya 1 jt. dan teman saya itu yang biasanya menggunakan sapaan teteh, sudah menggunakan bahasa lo-gue. semakin bertambah rasa bersalah saya. tapi tenang, saya berniat bertanggung jawab kok. walaupun pada akhinya saya menangis sesenggukan (tangis tertragis sampai saat ini) di kamar, dan tangis saya itu membuat teman saya bingung. 

"Ci Kenapa?" tanya Aniq. 
"Gue Bingung..." 

dan dari situ saya mulai tidak tenang. karena memikirkan dari mana saya dapatkan uang itu. 

Akhirnya, pada akhirnya saya cerita juga ke orang tua saya. Padahal, ganti rugi yang diminta sebelumnya, saya tidak berniat menceritakan pada ortu saya karena saya pikir saya masih bisa menghandlenya. 

Kemudian, Bapak menelpon. 
"Neng, mamah mau ngomong nih...dimarahin lho..." entah bercanda atau bagaimana bapak saya itu. 
mulai terdengar suara mamah saya itu, "Kok bisa kejadian kayak gitu??" dengan nada yang naik, mulai menanjak, saya pikir saya akan dimarahi disitu. dan saya pikir, jawaban yang akan keluar dari mulut mamah adalah "cari saja sendiri uangnya.." membayangkan itu, saya sesenggukan lagi nangis. 

"Ya siapa yang mau kejadian seperti ini.." akhirnya aku bisa bicara juga, setelah cukup lama speechless. Bayangan saya jadi teriangat kembali ke dosen saya itu, tiba-tiba ada rasa mangkel, kesel, karena berawal dari situ kejadiannya. 
"Udah..udah...ga usah nangis.." 
"Bapakmu mungkin ada uang segitu, tapi ya bukan uang bapakmu, tapi bisa dipakai dulu.." 

Alhamdulillah, kalimat dari mamah saya akhirnya bisa sedikit menenangkan. 
tapi, beberapa hari kemudian, saya malah terbayang, gimana kalau liburan 3 bulan ini saya tidak bisa pergi kursus bahasa Inggris di Pare, karena saya harus membayar uang pinjaman itu. Ah...tidaakkk!! ini rencana yang sudah lama diidam-idamkan. Kapan lagi saya bisa pergi kesana kalau bukan ketika libur. 

Saya memang terlalu pemikir dan sulit membuat let it go hidup saya. Bagaimana mau let it go, kalau nilai yang harus saya bayar sebesar dengan penantian saya selama satu semester, atau setara dengan effort yang saya keluarkan saat magang di lembaga survey. Dimana saya harus berpanas-panas, melakukan perjalanan yang melelahkan dan mencari alamat. 

Ada kekhawatiran-kekhawatiran kecil target saya tidak bisa tercapai karena masalah ini. Beberapa hari pasca kejadian, include hari ini dimana saya membuat tulisan  ini, saya malah tidak bersemangat mengerjakan tugas-tugas saya. Saya jadi lebih banyak mencari ekskavisme (pelarian) dengan tidur, dengan menonton opera sabun kesayangan saya, dengan makan sesuka saya (tidak lagi berhemat), dan ekskavisme dengan shalat tentunnya. 

Maaf Ya Allah, saya belum bisa menerima ini dengan sabar, seideal dengan theori sabar bagaimana ketika menghadapi sebuah cobaan. Semoga, saya bisa cepat-cepat bangkit, kembali bersemangat menjalani semuanya, karena tanpa semangat sama saja seperti  jasad tanpa ruh. Aku ingin kembali hidup lagi!!

Dan semoga, rencana saya belajar bahasa Inggris ke Pare, bisa tercapai. Dan semoga, saya menjadi tidak menyesal pernah membeli tumblr termahal sepanjang hidup, seharga sepertiga netbook teman saya itu. 




Selasa, 17 April 2012

Sinetron Indonesia



*Refleksi terhadap pertelevisian Indonesia

Televisi kita saat ini, lebih banyak menggambarkan kehidupan Jakarta dibandingkan dengan menggambarkan Indonesia secara utuh. Lihat saja bagaimana setiap program yang disiarkan, lebih banyak menggambarkan kehidupan Ibukota, daerah sekitarnya, khususnya Pulau Jawa. Sedangkan daerah Indonesia yang lain, khususnya Indonesia Timur kurang mendapatkan ruang penyiaran di media-media mainstream.

Beberapa program TV yang sangat jelas menggambarkan kehidupan Ibukota salah satunya adalah Sinetron. Kita bisa mengetahui bagaimana pola dari sinetron, biasanya sinetron di Indonesia menayangkan bagaimana orang kaya yang kerja di kantoran, atau orang yang miskin kemudian berubah menjadi orang kaya, dimana selalu ada peran-peran antagonis yang meramaikan jalan cerita. Alur cerita pun tak jauh-jauh dari peran utama yang dijahati oleh pemeran antagonis, kemudian masuk rumah sakit, atau jatuh ke jurang, kemudian lupa ingatan, dan alur cerita pun bisa diperpanjang sesuai dengan keinginan untuk mendongkrak rating.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ini, dalam artian tidak ada pelanggaran yang dilakukan sinetron dalam hal ini, sejauh masyarakat sadar bahwa sinetron hanyalah sebuah hiburan. Masyarakat ekonomi kelas bawah juga tak sedikit yang memfavoritkan sinetron, karena bagi mereka menonton TV tidaklah perlu memikirkan hal yang sulit. Sinetron menjadi media ekskavisme (pelarian) dari rutinitas yang mereka dihadapi.

Penyebaran infrastruktur media TV di Indonesia pun belum benar-benar merata. Penelitian yang dilakukan Media Scene menunjukkan bahwa pemetaan distribusi infrastruktur media konvensional di kepulauan Indonesia menunjukkan 351 transmitter dari 10 TV Nasional Free to Air, 1248 stasiun radio, dan 1.076 media cetak yang terbit dan tersebar ke 33 provinsi di Indonesia. Data tersebut menunjukkan adanya kesenjangan infrastruktur media antara Jawa-Bali dan sebagian Sumatra dibandingkan dengan daerah Indonesia Timur.[1]

Akibat dari kesenjangan infrastruktur ini, menjadikan TV sebagai media yang paling berpengaruh di seluruh daerah di Indonesia dibandingkan dengan media yang lain. Sebagian besar masyarakat tentunya sudah memiliki TV, walaupun belum tentu bisa menerima sinyal dengan baik.

Regulasi yang tertera dalam Undang-Undang Penyiaran no 23 tahun 2002 mengatur bahwa tidak boleh adanya TV yang bersiaran secara nasional kecuali TVRI yang mempunyai privilese untuk bersiaran secara nasional. Tetapi, sepertinya undang-undang ini belum mulai dipatuhi oleh media TV Swasta, karena faktanya masih banyak yang bersiaran secara nasional.

Siaran yang dilakukan dalam lingkup nasional ini, dengan perspektif Jakarta tentu saja mempunyai akibat terhadap penyebaran budaya. Yaitu menyebarnya budaya Jakarta ke seluruh daerah di Indonesia, yang kemudian menimbulkan ketegangan antara budaya Jakarta dengan budaya lokal. Bahasa ‘Lo-Gue’ menjadi icon anak muda gaul. Atau juga dari cara berpakaian (fashion) yang semuanya membentuk sebuah keseragaman (uniformity).

Oleh karena itu, untuk meng-counter hegemoni media TV yang menggunakan perspektif Ibukota atau Pulau Jawa ini, peran  media alternatif yang akan lebih mengakomodir kepentingan masyarakat sangat diperlukan. Media alternatif juga tentunya akan memberikan ruang bagi pelestarian budaya lokal.





[1] Nugroho, Yanuar, dkk. Mapping the landscape of the meda industry in Contemporary Indonesia. hlm. 57