Selasa, 03 Desember 2013

When Time is as Precious as Live

Film ini memberikan gambaran lain tentang manusia dan waktu. Jika dalam kehidupan nyata yang kita jalani sekarang mata uang yang berlaku adalah uang, maka di dalam film ini waktu lah yang menjadi nilai tukar. Mengerikan sebenarnya. Kita tahu bahwa setiap orang punya batas waktu, terlahir untuk kemudian bertemu dengan ajalnya. Uniknya, dalam film ini setiap orang tahu kapan batas waktu (time out) itu. Di tangan kiri setiap orang terdapat angka digital yang menunjukkan sisa waktu yang mereka punya.

"In Time" diperankan oleh Justin Timberlake sebagai Will, dan Amanda Seyfried sebagai Sylvia Weis. Will terlahir dari keluarga miskin. Mereka harus bekerja keras, untuk mendapatkan upah 'waktu' untuk menyambung nyawa dari hari-ke hari. Membeli kebutuhan sehari-haripun dengan waktu. Suatu gambaran realita yang mengerikan sebenarnya. Dalam situasi seperti itu tidur pun sepertinya tidak nyenyak, Will selalu terbangun dalam tidurnya karena khawatir dia kehabisan waktu sewaktu tidur.

Pemeran In Time
Berbeda dengan Will, Sylvia terlahir dari keluarga kaya raya. Sylvia mendapatkan warisan waktu yang tak terhingga. Kehidupan Will berubah ketika dia mendapatkan warisan waktu dari seseorang dengan cuma-cuma. Karena dia mendapatkan waktu dalam jumlah banyak, dia berurusan dengan pengawas/penjaga waktu (time keeper) dan sekelompok perampok waktu. Setelah mendapat waktu dalam jumlah besar, Will bisa pergi keluar dari kotanya menuju Greenwich sebuah kota metropolitan, sebuah kota yang dihuni oleh orang-orang yang memiliki waktu dalam jumlah besar.

Berikut contoh waktu sebagai alat tukar:

1 cangkir kopi : 4 menit
Tarif bus Carmen-Dayton: 2 jam
Kamar Standar Hotel New Greenwich: 2 bulan
Sarapan Hotel: 2,5 minggu

Ketika Will pergi dari kota asalnya menuju Greenwich, dia harus mengeluarkan sejumlah waktu, dengan ketentuan ini jelas orang-orang miskin tidak bisa keluar kota hanya sekedar untuk refreshing. Kehidupan begitu terasa kaku, karena tiap orang hanya memikirkan bagaimana dia bisa hidup di esok hari dengan gaji waktu yang ia dapat. Disisi lain, orang kaya tetap kaya. Seperti halnya teori Darwin, yang kuat dialah yang menang. Mereka yang punya waktu dalam jumlah besar bisa hidup selama-lamanya sampai waktu mereka habis.

Film ini menggambarkan bagaimana kapitalisme berjalan. Hidup dikuasai oleh pemilik-pemilik modal, dan kaum proletar disibukkan dengan urusan harian mereka (memperpanjang usia dari hari ke hari). Kaum proletar teralienasi (terasingkan) karena tuntutan tersebut. Kaum proletar tidak bisa hidup bermalas-malasan kecuali jika mereka rela mati karena waktunya habis.

Film ini benar-benar menggambarkan bagaimana ungkapan "Time is Money". Ketika waktu begitu sangat berharga, senilai dengan kehidupan itu sendiri.

Will dan Sylvia saat mencuri waktu dan membagi-bagikan secara gratis







1 komentar:

Senang jika anda mau meninggalkan jejak di postingan ini..:)

Copyright © 2014 Jurnal Asri