Minggu, 29 Juli 2012

Ramadhan di Pare (Kampung Kursusan Bahasa Inggris)



             Sudah seyogyanya kita mengisi Bulan Ramadhan dengan kegiatan yang positif. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris.

Kampung Inggris, tepatnya terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sepanjang Jalan Brawijaya dan sekitarnya kita bisa menemukan begitu banyak lembaga kursus Bahasa Inggris.  Pare terletak 25 km sebelah timur dari laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya, dan berada pada jalur Kediri-Malang dan Jalur Jombang-Kediri serta Jombang-Blitar.  Kota Pare yang ada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Hanya saja, ketika saya berada di sana, angin berhembus sepanjang hari dan membuat kami yang belum terbiasa dengan keadaan di sana menjadi kedinginan bahkan ada beberapa yang masuk angin.

Peta Kampung Kursusan Bahasa Inggris (Pare-Kediri)

Berbagai jenis jajanan dan makanan enak dan higienis bisa kita temukan tentunya dengan harga ‘kampung’. Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke sana, jangan khawatir karena di kota kecil ini berbagai fasilitas dan infrastruktur kota bisa dijumpai seperti hotel, ATM bersama, warnet 24 jam, mesjid, dsb. Hanya saja, transportasi di sana memang tidak seramai di kota-kota besar. Kebanyakan penduduk dan pendatang di sana menggunakan kendaraan pribadi dan sepeda sebagai alat transportasi.

Nama Kampung Inggris sudah terkenal sampai ke berbagai daerah di Indonesia. Model pembelajarannya yang unik, membuat daya tarik tersendiri sehingga begitu banyak pendatang yang kebanyakan adalah mahasiswa, menghabiskan waktu liburan di kota kecil ini. Menurut Kalend Osen, pendiri lembaga Kursusan pertama di Pare, mengatakan sampai saat ini jumlah kursusan Bahasa Inggris yang ada di Pare sudah mencapai 114 lembaga. Sebuah fakta memukau, karena begitu bervariasinya lembaga dengan berbagai karakteristik dan strategi pembelajaran.

Bagaimana Pare bisa berkembang seperti saat ini?

Awalnya, Mr. Calend Osen, seorang warga asli Indonesia, yang mendirikan lembaga Basic English Course (BEC) pada tahun 1977. BEC inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya lembaga-lembaga kursusan lain di kota ini. Awal berdirinya, BEC masih menggunakan fasilitas yang sederhana, yaitu teras mesjid dan siswanya adalah anak-anak sekitar yang kurang menguasai bahasa Inggris. Pada saat itu, tidak begitu banyak masyarakat yang menyadari pentingnya bahasa Inggris sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi Mr. Calend Osen dalam mengembangkan lembaga kursusnya. Lulusan dari BEC ini, kemudian ada yang menjadi pengajar di lembaga tersebut, dan ada juga yang mendirikan lembaga kursus lain dengan metode, durasi waktu, spesialisasi program, dan biaya yang bervariasi. Tetapi, tidak semua lulusan BEC mendirikan lembaga kursus, ada dari mereka yang memanfaatkan potensi bisnis dengan membuka warung, berjualan makanan, jasa fotokopi, rental sepeda, dsb. Mungkin dari sinilah, asal mula cerita tentang pedangang/penjual makanan di sana yang menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi sehari-hari.

Sebenarnya apa yang membedakan lembaga kursus di Pare, dengan lembaga kursus lainnya? Poin pembedanya ada pada faktor biaya, durasi waktu, dan intensitas belajar. Dari segi biaya, mengambil kursusan di sini, jauh lebih murah dibandingkan dengan lembaga kursusan Bahasa Inggris lainnya. Ada berbagai macam spesifikasi program yang bisa teman-teman ambil, seperti program Speaking untuk meningkatkan kemampuan berbicara dengan spesifikasi pronounciation (ejaan), public speaking, dan active speaking, program 0o untuk meningkatkan kemampuan memahami struktur Bahasa Inggris yang terdiri dari berbagai tingkatan, program TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sebagai tes bahasa Inggris standar Internasional dimana banyak universitas dan beasiswa keluar negeri menggunakan TOEFL sebagai persyaratan, program IELTS (International English Language Test System) dimana tes ini lebih kompleks dibandingkan dengan TOEFL, dan masih banyak program lainnya.


OXFORD, salah satu lembaga kursus di Pare spesialis TOEFL

Dari segi waktu, ada berbagai macam pilihan. Mulai dari yang paling lama yaitu durasi 6 bulan di BEC, sampai waktu terpendek 1 minggu. Teman-teman bisa menyesuaikan dengan waktu dan budget yang dimiliki. Selain itu, proses belajar begitu intens, karena kebanyakan setiap program mempunyai dua sampai tiga pertemuan per harinya. Jadi, jika teman-teman mengambil 3 program sekaligus, minimal ada lebih dari 6 pertemuan yang harus dihadiri, bisa-bisa kelas penuh dari pagi sampai sore.

Setiap lembaga kursus mempunyai karakteristik dengan metode pembelajaran yang berbeda, sehingga kita harus cermat sebelum memilih akan belajar di lembaga mana. Saking banyaknya lembaga kursusan, teman-teman yang belum pernah ke sana mungkin akan bingung memilih yang mana. Sebelum pergi ke sana, alangkah baiknya teman-teman mencari informasinya melalui searching di internet.

Beberapa lembaga yang sudah lama berdiri dan sudah qualified seperti KRESNA, TEST, ACCES ES, OXFORD, WEBSTER, Daffodils, Marvelous, dan Global E. Jika teman-teman ingin meningkatkan skor nilai TOEFLnya, bisa memilih OXFORD karena lembaga ini terkenal sebagai spesialis TOEFL sejak tahun 2007. Jika teman-teman ingin meningkatkan kemampuan speaking, maka pilihlah Daffodils yang terkenal dengan spesialisasi speaking sejak tahun 2003 atau ACCES ES yang bisa meningkatkan kemampuan bicara dalam waktu 1,5 bulan dengan suasana kelas yang kondusif.

Belajar di Pare, atau orang mengenalnya sebagai ‘Kampung Inggris’, bisa menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kemampuan berbahasa kita. Di era global ini, kemampuan berbahasa Internasional memang dituntut, apalagi bagi lulusan universitas. Selain menjadi tools dalam transfer ilmu pengetahuan yang di dapat dari luar, kita juga bisa menjadi lebih berdaya dalam menghadapi globalisasi ketika sudah menguasai bahasa asing tersebut.


0 comments:

Posting Komentar

Senang jika anda mau meninggalkan jejak di postingan ini..:)

Copyright © 2014 Jurnal Asri