American Idol sebagai Budaya Populer dan Globalisasi
Analisis terhadap American Idol sebagai budaya populer yang mengglobal lewat media, dan pengaruhnya terhadap Indonesia.
Oleh : Asri Nuraeni
Phillip Phillips & Elise saat menyanyikan "Somebody That I Use to Know"
Hari ini, siapa yang tak mengenal Phillip Phillips? Laki-laki usia 20 tahun yang menjadi finalis American Idol season 11. Minggu ini Phillips melawan Jessica Sanchez memperebutkan posisi the winner of American Idol season 11. Video penampilannya saat 3 besar saat membawakan lagu You’ve Got Tonight yang diunggah di Youtube, dilihat sebanyak 662.980 kali dengan 4.620 likes dan 452 dislikes. Sedangkan video Jessica dengan lagu I Dont Want to Miss A Thing dilihat sebanyak 991.872 kali dengan 264 likes, dan 439 dislike. Sedangkan Joshua Ledet dengan Imagine-nya hanya dilihat 171.852 kali, dengan 878 likes dan 470 dislikes. Berbagai dukungan disampaikan melalui sosial media dari semua penonton di seluruh dunia. Joshua Ledet penyanyi berkulit hitam ini tereliminasi di babak 3 besar.
Keluarnya Joshua Ledet, dari tiga besar menunjukkan bahwa seorang penyanyi selain suaranya harus bagus, juga secara penampilan harus menarik. Bukan berarti penampilan Joshua Ledet itu tidak menarik (bukankah menarik itu relatif?), tetapi secara visual Phillip Phillips (untuk kategori penyanyi laki-laki) secara universal memang lebih menarik perhatian pemirsa. Dan kebanyakan dari penonton merupakan perempuan, sehingga bisa dikatakan bahwa perempuan juga mempunyai female gaze.




