Selasa, 28 Februari 2012

MEDIA MASSA dan PROPAGANDA POLITIK


Sebuah laporan bacaan mata kuliah Media Massa dan Sistem Politik, yang ditulis dengan berdarah-darah..:)


Indonesia, as imagine country

Sejarah perkembangan media komunikasi massa di Indonesia tentunya merupakan usaha tanpa henti untuk memanfaatkan media sebagai sebuah instrumen perkembangan negara, dan untuk mengendalikan pers.[1] Media pada awal kemunculannya di Indonesia digunakan untuk membangun sebuah Imagine Nation[2]. Radio berperan dalam membangun nasionalisme Indonesia, sebagai peran utama dalam usaha merebut kemerdekaan dan membangun identitas nasional setelah kemerdekaan pada era Soekarno. Sedangkan TV digunakan oleh Soeharto dalam mempublikasikan pemerintahannya melalui TVRI. TV membangun nilai-nilai kebersamaan, menciptakan sebuah imagined state untuk melengkapi jarak geografis dan sejarah penjajahan.[3] Akhir dari pemerintahan Soeharto memicu terbukanya kebebasan pers dan tumbuhnya industri media, yang kemudian menstimulus munculnya ruang publik dan civil society.

Senin, 13 Februari 2012

Demokrasi dan Media Massa


*Sebuah laporan bacaan pada mata kuliah Media Massa dan Sistem Politik, kelas Kajian Media

Proses Demokratisasi sebuah negara merupakan sebuah proses yang tidak instan. Bukan berarti, ketika sudah berlangsungnya pemilu, negara tersebut bisa disebut sebagai negara yang demokratis. Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yang berasal dari kata demos (orang) dan kratos (aturan). Ada dua konsep mengenai demokrasi. Pertama, konsep dari Joseph Schumpeter. Baginya, demokrasi merupakan sebuah mekanisme yang sederhana dimana masyarakat memilih pimpinan politiknya. Kedua, konsep yang lebih komprehensif, yang disarankan oleh David Held. Ia menyebutnya sebagai otonomi demokrasi. Adanya negara yang accountable dan civil society. Adanya partisipasi dari masyarakat, kontrol terhadap semua aspek kehidupan sosial, dan hak dalam berpolitik, kebebasan, ekonomi, dan sosial.[1]

Media Massa dan Institusi Politik


*sebuah laporan bacaan dalam mata kuliah Media  Massa dan Sistem Politik Kelas kajian Media

Media mempunyai peranan penting dalam sebuah negara. Analis media menyebutnya, sebagai Dual Role of Media. Pertama, media bisa mempengaruhi kebijakan di dalam institusi. Apa itu institusi? “Institutions can be understood as the formal and informal rules governing human behavior, and the enforcement of these rules.”[1] Institusi dapat dipahami melalui tiga pendekatan, yaitu istitusionalisme sosiologis, institusionalisme historis, dan isnstitusionalisme politis.

Media Massa dan Kekuasaan


*Sebuah laporan bacaan dalam mata kuliah Media Massa dan Sistem Politik, Kelas Kajian Media.

Apa yang diucapkan oleh Max Weber bahwa politik juga bisa diselenggarakan dalam bingkai negara. Konsep politik sangatlah luas, yang menggambarkan kepemimpinan independen. Seperti aliran kebijakan bank, bisa juga pendidikan kebijakan kotamadya, dsb.
Dalam konteks negara, politik adalah tentang memperoleh atau kehilangan kekuasaan (power). Ini memungkinan satu aktor dalam sebuah relasi sosial/mempengaruhi posisinya. “Politik” untuk kita berarti usaha untuk membagi kekuasaan untuk mempengaruhi distribusi kekuasaan, di dalam negara atau kelompok di dalam negara. Aktor dalam politik juga berusaha mendapatkan kekuasaan untuk mengusahakan maksud lain, kekuasaan untuk kekuasaan, menikmati gengsi/wibawa – perasaan yang didapat dari kekuasaan.

Selasa, 07 Februari 2012

Internet dan Budaya Baca Kita


Budaya baca masyarakat Indonesia memang masih terbilang rendah. Berdasar data yang dilansir dari Organisasi Pengembangan Kerja Sama Ekonomi (OECD), budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.[1] Selain budaya baca yang rendah, masyarakat kita menjadi masyarakat yang sangat cerewet di sosial media. Nicholas Carr, menyampaikan kekhawatirannya terhadap penggunaan internet yang masif, dan dalam jangka waktu yang panjang, akan menimbulkan kedangkalan pikiran manusia. Benarkah demikian? Bagaimana dengan msayarakat kita dengan minat bacanya yang rendah, tetapi sangat cerewet di media baru ini?
Internet dengan digitalisasi yang menyertainya ternyata membawa beberapa hal baru di masyarakat. Tampilan layar (screen) yang kaya dengan image, text, numbers, graphics, sounds, yang memang sangat kompleks, merangsang indera penglihatan dan pendengaran kita. Internet itu sendiri, pada akhirnya sangat memanjakan otak kanan manusia. Karena image dan graphics yang dimuatnya. Sehubungan dengan otak kanan yang bersifat imaginatif, visual, lateral, sedangkan otak kiri lebih bersifat linear, tekstual. Fasilitas link, jump, dan association yang ditemukan di internet juga memang memanjakan otak kanan. Pasalnya, link, jump, dan association membiasakan penggunanya untuk cenderung berpikir dengan pola asosiatif dibandingkan dengan pola linear. Sehingga penggunaan link, jump, dan association memang sesuai dengan otak kanan.
Copyright © 2014 Jurnal Asri