Sabtu, 29 Oktober 2011

Pemuda itu, ‘Sesuatu Banget’



Dua Ratus tahun yang lalu, Napoleon Bonaparte, sepulang dari China, dia berkata, "Lihat, China adalah raksasa yang sedang tidur. Biarkan mereka tidur. Biarkan mereka tidur. Karena pada saatnya mereka terbangun, seluruh dunia akan terguncang.”
Sekarang, abad 21, raksasa China telah terbangun, dan seluruh dunia terguncang hebat. Lantas bagaimanakah seandainya sang Panglima besar Perancis itu sempat mampir ke Indonesia? Saya bisa membayangkan paras sang Napoleon Bonaparte akan lebih takjub melihat bangsa ini, dan mungkin akan berkata "Lihat, Indonesia adalah raksasa besar yang sedang tidur. Biarkan mereka tidur, bahkan berikan mereka obat tidur dosis tinggi, agar tidak akan pernah bangun dari tidurnya. karena pada saatnya mereka terbangun, seluruh dunia akan berguncang hebat.” Lantas apakah raksasa besar ini sudah terbangun dari tidurnya?

Selasa, 25 Oktober 2011

Bengkel Opini: Berkomunikasi dengan Bahasa CINTA

Bengkel Opini: Berkomunikasi dengan Bahasa CINTA: " Siapa yang tak senang dipuji? Bukan hanya orang dewasa, bahkan anak kecil pun akan merasa "ada" ketika mereka diperhatikan, bagaimana...

Sukses Membangun Karir




Ilmu itu, walaupun sedikit, harus disampaikan bukan?
Nah, saya pengen sedikit share tentang apa yang saya dapat ketika mengikuti workshop “Wijayanto on Softskill Series” bertema Sukses Membangun Karir. Ada beberapa teman karena suatu hal, tidak bisa mengikuti acara ini, oleh karena itu, semoga tulisan ini bisa menjembatani waktu (bridging time) dan banyak orang yang akhirnya mendapat manfaat melalui tulisan singkat ini. (sejatinya manfaat itu datang dari Allah SWT).
Di awal, Pak Wija bercerita tentang sebuah Film yang dibintangi oleh Ronal Ryden, dimana salahsatu scene dari film tersebut menvisualisasikan sebuah bulu yang terbang terus menerus karena terhembus angin. Bulu tersebut tidak pernah sampai ke permukaan tanah, karena terhempas angin yang tak pernah berhenti.
Selesai menceritakan film tersebut, poin yang di dapat adalah Hidup kita ini tergantung bagaimana lingkungan dan situasi. Faktor lain, yang unpredictable, dan sulit kita kendalikan.
“Sukses itu apa?”

yang Kita Perlu atau yang Kita Ingin?



Coba amati dan renungkan deh, keseharian kita saat ini. Dimana teknologi canggih dan teranyar hampir semua punya, khususnya di Ibukota. Saya ingat apa yang pernah disampaikan teman saya saat presentasi di kelas : “Sekarang, bisa diitung jari deh siapa yang gak pake BB di kampus ini..” dan dosen yang kebetulan duduk di sebelah saya langsung mengusap-usap bahu saya..”sabar ya Ri..” sambil melirik handphone (bukan smartphone) saya yang tergeletak di atas buku. Semua kelas sontak tertawa. Saya langsung nge-les, “Bu, saya ga pake BB itu pilihan..” dengan nada sok-sok Idealis gitu. Padahal, emang belum aja kali. Tapi, emang bener kok, saya akan menggunakan barang include BB jika saya benar-benar menyadari betapa penting fungsinya, tidak sekedar hasrat untuk memilikinya saja.

Kecerewetan Kita di Twitter dan Facebook



Saya, bisa dibilang merupakan orang yang terlambat mempunyai akun twitter. Padahal, setiap harinya saya mendapatkan akses yang mudah untuk internet-an. Mas Roby Muhammad, sempat menyampaikan dalam serangkaian kegiatan FIM 11 (Forum Indonesia Muda) bahwa negara yang mempunyai akun twitter terbanyak adalah Amerika, tetapi twitter dengan tingkat kecerewetan tinggi adalah Indonesia, negeri tercinta kita ini kawan. Hmm..tingkat kecerewetan ini, indikasinya adalah seberapa banyak kita nge-tweet.
Mas Roby Muhammad mengatakan, twitter awalnya digunakan sebagai micro blogging site, namun di Indonesia sendiri, ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah chatroom raksasa. Entah ini sebuah berita baik atau buruk, tetapi segala sesuatunya  seperti sebuah mata uang yang selalu ada dua sisi : positif dan negatif. Saya sendiri, ketika pertama kalinya mengakses twitter, saya malah bingung. “Ini kok banyak hal2 ga penting gitu, kebanyakan curcol ga jelas, nyampah...” tapi, walaupun begitu, akhirnya saya punya akun twitter juga...:) hehe.


Gambar : aktivitas nge-tweet di dunia. Di bagian Indonesia, siang ataupun malam selalu saja kelap-kelip, menggambarkan begitu aktifnya kita di twitter.

Senin, 10 Oktober 2011

Ditanganmu, Nasib Indonesia Kedepan Ditentukan



Untuk kedua kalinya saya [baca: gue] bertemu dengan Mas Pandji Pragiwaksono. Sekarang, siapa sih yang ga kenal sama sosok humoris ini? Itu lho, hostnya Provokative Proactive. Ketemu dia pertamakalinya, yaitu saat gue mendapat sebuah cobaan [entah anugerah] pada bulan April 2011 kemarin, saat itu gue jadi panitia Forum Indonesia Muda X bertema entrepreuneur, dan jadi PJ di hari ketiga. Saat itu, celakanya, salah satu MC-nya ga dateng, dan mau ga mau, gue harus gantiin tuh MC. Singkat cerita, ternyata siangnya, pembicaranya itu Mas Pandji Pragiwaksono, gila..asik banget pokoknya.
Hari ini, gue ga nyangka bisa ketemu lagi sama dia. Kata temen gue, [karena gue ga inget jadwal kuliah], ada kuliah umum bertema Anti Korupsi. Rada telat, gue masuk ke aula yang udah dipenuhi anak-anak kampus small but Giant yang ikut mata kuliah ini. Gue ambil posisi di tengah.
Singkat cerita, datenglah Mas Pandji, masih dengan matanya yang sipit, [seperti baru bangun tidur]. Setelah selama 2 jam lebih dengerin share-nya Mas Pandji, gue rasa [karena merasa diri ini beruntung mengecap pendidikan, dan bertanggungjawab menyebarkan pengetahuan yang udah didapet] jadi gue mau share, apa yang udah gue dapat lewat tulisan ini. [kalau menurut kalian tulisan ini bermanfaat, boleh banget kok di share ke temen2 yang lain, dilike, atau di RT gitu..hehe..]

Menulis atau Tidak



Pepatah mengatakan, harimau mati meninggalkan belangnya. Manusia mati, meninggalkan apa?
Hayoo...meninggalkan apa? Ini bukan tebak-tebakan teman, banyak jawabannya sih. Bisa harta, bisa nama, bisa gagasan dan pikiran, bisa juga utang. Dan kali ini, saya pengen membahas [cie..kayak dosen aja nih], ketika manusia mati, ia meninggalkan sebuah gagasan hasil pola pikirnya selama hidup, dan semua itu terdokumentasikan dalam sebuah tulisan. Bisa dalam bentuk nonfiksi, dan fiksi. Bebas.
Kalau boleh saya bilang, manusia itu haruslah menulis. Menulis, merupakan proses menuangkan gagasan, ide, pikiran, (atau apalah namanya) ke dalam sebuah tulisan. Menulis mempunyai efek positif bagi si penulis itu sendiri, yaitu pertama menstabilkan emosi, dan menyalurkan semua “kegalauan” ke dalam sebuah tulisan. Terkadang ada beberapa hal yang tak bisa diceritakan atau disampaikan pada orang lain, apalagi jika respon dari orang yang mendengarkannya tak sesuai dengan harapan kita. Kecewa deh jadinya.
Copyright © 2014 Jurnal Asri