Jumat, 15 April 2011

Lagi-lagi Motif Agama



Negeri ini bagaikan panggung sandiwara. Segala hal bisa diracik dan penuh intrik. Perbedaan antara yang salah dan benar menjadi bias, abu-abu. Masih hangat di telinga kita, beberapa media memberitakan tentang kasus bom buku yaitu semacam  teror bom yang dikemas dalam bentuk buku. Teror bom buku tersebut ditujukan kepada intelektual muslim Ulil Abshar Abdalla. Paket serupa dikirimkan kepada Kalakhar Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Gories Mere dan Ketua Pemuda Pancasila Yapto S Soerjosoemarno.

Konco Wingking dan Kartini-Kartini Baru



Konco wingking. Apa itu Konco Wingking? Bagi anda  yang belum tahu, konco wingking berarti  pandangan yang melihat perempuan sebagai ‘pemanis’ atau ‘penambah’ kehidupan, perempuan dianggap tidak menjadi subjek dalam hidup, sebagaimana laki-laki hidup. Kini, masih ada saja sebagian masyarakat yang melihat perempuan dalam kacamata konco wingking-nya.
Di dalam tubuh pemerintahan, masih ada menteri pemberdayaan perempuan. Itu berarti di Indonesia, masih terjadi ketimpangan gender. Dimana masih terjadi kekerasan terhadap perempuan, marjinalisasi (pemiskinan) terhadap perempuan, subordinasi terhadap perempuan yaitu kurangnya penghargaan terhadap peran perempuan dalam ranah domestik dan reproduksi, double burden (beban ganda) dimana ketika peran perempuan bekerja di ranah publik tidak dibarengi dengan pengurangan beban di ranah domestik, stereotype yaitu pelabelan terhadap perempuan bahwa perempuan itu lemah, perempuan itu tidak rasional dan emosional, perempuan itu suka digoda, dan masih banyak pelabelan lainnya, serta masih banyak hak-hak perempuan yang tidak terpenuhi.
Mari kita tengok masa lalu, dimana Kartini hadir sebagai representasi perempuan. Setelah lulus SD, sebenarnya ia sangat ingin melanjutkan pendidikannya. Namun adat istiadat yang masih lekat mengikat, membuatnya tak berani menentang keputusan orang tuanya yang memingitnya sampai ia menikah. Ia mengobati rasa hausnya akan ilmu pengetahuan dengan membaca. Ya, membaca buku-buku, bahkan surat kabar ia baca. Jika ada yang tidak ia pahami, ia akan bertanya kepada Ayahnya tentang hal  tersebut. Tiada hari tanpa membaca.
Copyright © 2014 Jurnal Asri