Selasa, 13 September 2011

Refleksi Ramadhan bagi Negeri

Ramadhan tahun ini baru saja usai. Umat Islam di dunia, begitupun muslim Indonesia merayakan hari Iedul fitri tahun 1432 H ini. Tradisi yang biasa dilakukan saat hari kemenangan ini tiba, yaitu dengan bersilaturahmi terhadap sanak saudara, dengan tujuan untuk saling bermaaf-maafan. Menghapus kesalahan dan kehilafan yang telah lalu. Maka hari kemenangan ini, bagaikan sebuah lembaran baru bagi kita untuk memulai semuanya dari nol, tentunya dengan niat yang lebih baik, dan tidak mengulangi lagi kesalahan yang telah lalu.
Indonesia, dengan 88% penduduk muslim di dalamnya, menjadi sebuah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.  Suatu hal yang ironis, tanpa mengurangi rasa optimisme kita, Transparency International  pada tahun 1995 meluncurkan Corruption Perception Index dengan press releasnya yang pertama yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara terkorup dari 41 negara yang disurvei.
Tanpa mengurangi rasa optimisme bahwa korupsi ini dapat dihapuskan dan atau direduksi dari negeri ini, survei di atas menciptakan sebuah paradoks.  Di satu sisi, Indonesia adalah sebuah negara dengan tingkat religius tinggi. Tetapi di sisi lain, tingkat korupsinya tinggi. Idealnya, jika religiusitasnya tinggi berbanding lurus dengan tingkat korupsi yang rendah. Sejenak kita renungi, mungkin ada sesuatu yang hilang, mungkin juga ada sesuatu yang telah kita lupakan, sehubungan dengan kenyataan ini. Padahal, bagi umat muslim di negeri ini, setiap tahun menjalankan ibadah puasa, zakat, dan ibadah-ibadah yang lain. Seharusnya, puasa yang kita jalani setiap tahunnya, bisa membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa ini.
Refleksi Puasa Ramadhan
Puasa telah mendidik orang yang menjalankannya, untuk berempati terhadap orang-orang yang kekurangan. Membuat kita menjadi tahu, bagaimana lapar dan dahaganya kaum dhuafa. Selain itu, puasa mengajarkan kita untuk bisa menahan dan mengendalikan nafsu, baik itu nafsu amarah, nafsu seks, dan nafsu terhadap hal-hal duniawi.
Menurut Komaruddin Hidayat, dalam diri manusia terdapat sifat hewani (animality). Sigmund Freud menamainya dengan Id. Sifat hewani yang terdapat dalam diri manusia ini, akan berusaha mengejar pleasure (kesenangan/kenikmatan emosional-fisikal). Sebagaimana binatang yang akan mencari makan dan minum jika ia lapar dan dahaga, ia akan mendekati lawan jenis jika ada ketertarikan. Manusia juga tak jauh seperti itu. hanya saja, manusia tak hanya tertarik terhadap lawan jenis, tetapi juga tertarik pada uang dan harta. Khusus untuk nafsu seks, lahirlah lembaga pernikahan untuk mengakomodasinya.  Lembaga pernikahan juga menjaga nama baik manusia, menempatkan keturunan keluarga di masyarakat. Manusia yang tak bisa mengendalikan hawa nafsunya, tak ada bedanya dengan hewan. Puasa juga, telah mendidik kita untuk tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan jasadiyah (makan dan minum saja), mendidik kita untuk tidak rakus.  
Disamping sifat hewani, manusia juga mempunyai sifat insani (humanity). Sifat insani manusia di anugerahi Tuhan berupa kesadaran moral, kreativitas, dan refleksivitas. Pada jiwa insan ini, manusia hendaknya mampu membedakan dan membuat kalkulasi untung-rugi antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah, dan agar manusia dapat mengendalikan jiwa hewaninya.
Puasa juga mengajarkan sebuah kejujuran. Bukankah ketika menjalankan ibadah tersebut, tak ada yang tahu apakah kita masih berpuasa atau tidak? Hanya kita dan Tuhan saja yang tahu. Maka, kita dilatih untuk bisa jujur pada diri sendiri. Puasa, menanamkan sebuah integritas bagi orang-orang yang menjalankannya.
Korupsi dan Bangsa ini
Korupsi berarti penyalahgunaan kekuasaan publik untuk kepentingan pribadi atau privat dengan cara-cara yang bertentangan dengan hukum yang berlaku. Pelaku korupsi, berarti telah menggadaikan integritasnya demi kepentingan prbadi sesaat. Juga telah membuang jauh-jauh rasa empatinya terhadap sesama, dimana korupsi yang ia lakukan telah merugikan banyak pihak.
Apa yang dikatakan Komaruddin Hidayat cukup menjawab pertanyaan di awal tadi.
“Sebuah negara meskipun sekuler tidak beragama, jika pendidikan dan ekonominya bagus, dan hukumnya ditegakkan, lebih sanggup mengurangi korupsi ketimbang masyarakat yang agamis, namun miskin komitmen sosial dan kemanusiaan.”
Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita ini masyarakat yang miskin komitmen sosial dan kemanusiaan? Indonesia dengan 88% muslim di dalamnya, yang setiap tahun menjalankan puasa, harusnya menjadi sebuah titik tolak positif untuk membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang bersih dari korupsi. Sehingga, ibadah yang kita jalankan selama ini, tak hanya ritual belaka, tetapi benar-benar diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.
* mahasiswa Ilmu Komunikasi Peminatan Kajian Media, Universitas Paramadina, Jakarta.


0 comments:

Posting Komentar

Senang jika anda mau meninggalkan jejak di postingan ini..:)

Copyright © 2014 Jurnal Asri