Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label article. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Warga Tayan Hilir Gunakan Drone untuk Selamatkan Wilayahnya dari Industri Tambang, Perkebunan Sawit, dan Karet

Drone yang diterbangkan untuk memotret wilayah di tiga desa, Desa Subah, Desa Sejotang, dan Desa Pedalaman, Kec. Tayan Hilir, Kalimantan Barat. Foto udara yang ditangkap drone kemudian dijahit menjadi peta spasial. Peta spasial ini kemudian dioverlay dengan peta wilayah dari pemerintah daerah, kemudian diketahuilah kawasan yang mengalami tumpang tindih izin. Sumber Foto: Swandiri Institute dan PWYP Indonesia. 
Warga Kecamatan Tayan Hilir Kalimantan Barat menggunakan drone (wahana tanpa awak) untuk memetakan wilayah pemukiman warga dan fasilitas sosial yang mulai terkepung industri tambang, Hutan Tanaman Industri, dan perkebunan sawit. Pasalnya, total wilayah perizinan industri ekstraktif tersebut lebih besar dibandingkan dengan total luas kecamatan itu sendiri. Hermawansyah, Direktur Swandiri Institute menyampaikan data ini saat rapat dengar dengan anggota DPRD Kabupaten Sanggau, Selasa (26/5) lalu. Rapat dengar dilakukan untuk menyampaikan aspirasi warga terkait hak mereka yang selama ini terabaikan akibat adanya industri ekstraktif di Tayan Hilir.

“Total luas Kecamatan Tayan Hilir 119.502 Ha, 51%nya adalah konsesi tambang, 54%nya adalah konsesi sawit, dan 12%nya adalah HTI. Maka total luasan konsesi 140.013 Ha, melebihi luas Kecamatan itu sendiri,” papar Hermawansyah dalam rapat dengar tersebut.

 Dampak negatif dari terlalu banyak konsesi izin ini adalah mulai terpinggirkannya hak tenurial warga. Hak tenurial merupakan hak atas tanah maupun lahan pertanian maupun perkebunan yang ada dalam ataupun sekitar hutan. Arif Munandar, peneliti Swandiri Institute menjelaskan bagaimana dampak pertambangan, Hutan Tanaman Industri (HTI), dan sawit bagi warga di tiga desa di Kecamatan Tayan Hilir, yaitu Desa Subah, Desa Sejotang, dan Desa Pedalaman.

“Masih terdapat pemukiman, pertanian, dan perkebunan rakyat dalam kawasan hutan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan produksi, bahkan di Desa Subah tepatnya di Dusun Terentang tidak dapat membangun sekolah SMP dan SMA karena terkendala status kawasan hutan ini,” papar Arif. Terkait masuknya pemukiman dan fasilitas sosial ini, sebetulnya warga terlebih dahulu menempati wilayah tersebut, namun kemudian muncul penetapan status hutan produksi oleh pemerintah.

Arif menambahkan, adanya aktivitas ekstraktif ini telah mencemari linkungan di beberapa wilayah yang dilindungi warga. Wilayah tersebut yaitu bukit/gunung yang berfungsi sebagai daerah resapan air, dan sebagai situs pedagi yang disakralkan oleh warga setempat, seperti: Gunung Lait, Bukit Satok di Desa Subah, Gunung Sebayan, dan Bukit Beginjan di Desa Sejotang. Juga wilayah danau yang dilindungi warga, yaitu Danau Lait, Danau Terentang di Desa Subah, Danau Semenduk di Desa Sejotang, dan Danau Bekat di Desa Pedalaman.

“Dampak dari aktivitas perusahaan sawit dan karet di sekitar Danau Bekat mengakibatkan pencemaran, sehingga tangkapan ikan menurun. Selain itu, aktivitas tambang bauksit PT. SMA menyebabkan air sungai yang mengalir ke Danau Bekat menjadi berwarna kuning, karena tercemar oleh air bekas cucian bauksit. Dampak pencemaran lingkungan yang lebih ekstrem terdapat di Danau Semenduk. Danau yang dulunya menjadi sumber air dan tempat nelayan mencari ikan, saat ini mengalami pendangkalan bahkan menjadi kering akibat limbah dari aktivitas tambang bauksit PT. Mahkota Karya Utama.” Ujar Arif. Menanggapi hal ini, warga Desa Sejotang akan menuntut perusahaan dan mendorong pencabutan izin pertambangan perusahaan tersebut.

Warga desa didampingi Swandiri Institute, Organisasi Masyarakat Sipil yang bergerak di bidang tata kelola industri ekstraktif di Kalimantan Barat, melakukan pemetaan wilayah dengan menggunakan drone. Menurut Hermawansyah proses pemetaan partisipatif menjadi lebih cepat setelah menggunakan bantuan drone. “Proses pemetaan menggunakan sistem GPS untuk menandai batas wilayah, mulai dari desa hingga hutan adat. Batas ini lah yang menjadi rute terbang drone, dan drone mengambil potret dari ketinggian tertentu,” ujarnya.

Dalam rapat dengar tersebut Hermawansyah menunjukkan peta sementara yang sudah dihasilkan. Peta ini menjadi informasi dasar yang menjadi pegangan warga dalam memperjuangkan wilayah kelola mereka. “Masyarakat mengusulkan ditetapkannya hutan adat sebagai upaya penyelamatan wilayah kelola masyarakat di Desa Subah, Desa Sejotang, dan Desa Pedalaman dengan ditetapkannya Peraturan Daerah (Perda) tentang pengakuan/perlindungan masyarakat hukum adat. Sambil menunggu penetapan Perda, pemerintah Kabupaten (Bupati) dapat mengeluarkan keputusan tentang penetapan hutan adat,” pungkas Hermawan.

PS: tulisan ini saya buat untuk tugas penulisan menulis Kelas Aksara Institute

Rabu, 22 Juli 2015

Menambang Emas Menambang Harap, Tambang Rakyat di Sumbawa Barat

Limbah pengolahan tanah yang mengandung emas, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (dok.pri)
Namanya "Mat Beken", panggilan populer untuk sesosok laki-laki berusia sekitar 40an. Saat saya berkesempatan bertandang ke rumahnya di Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), NTB, Pak Mat dengan ramah menyambut kehadiran kami. Saat itu hari Senin, dan siang sudah beranjak sore. Pak Mat kebetulan sedang berada di rumahnya, biasanya dia bekerja di Bukit Ngampar sebagai penambang tradisional. Saya dengan seorang kawan asal KSB berkesempatan ngobrol-ngobrol ringan dengan salah seorang warga yang sukses dari menambang tradisional. 

Rabu, 01 April 2015

Meracau Soal Cantik

Ilustrasi: www.stylemotivation.com

Situasi penuh canda, tiba-tiba berubah menjadi lebih serius. Pasalnya, satu teman kami seperti press conference menjelaskan tentang semua unek-uneknya gara-gara pertanyaan “Kok sekarang jerawatan?” saat bertemu lagi setelah lumayan lama ga ketemu. Atau statement lain yang mungkin buat tidak enak seperti “ih kok kamu kecil banget”, “tulangnya kecil sekali”, dan mungkin saya juga pernah berujar tak sengaja “ih kamu kecil banget” sedangkan gue yang sintal ini susah sekali menjadi langsing K Sebetulnya dalam kalimat “ih kamu kecil banget” itu pesan sebetulnya adalah, beruntungnya dirimu mau makan sebanyak apapun, tapi ga ngaruh ke berat badan.

Minggu, 29 Maret 2015

Bagaimanakah Menjaga Perasaan Anak?

Ilustrasi, sumber: http://indoblog.blogdetik.com/
Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan. Bahkan emosi anak berbeda-beda sesuai dengan perkembangan usianya.  Lalu, bagaimanakah menjaga perasaan anak?

Menjaga perasaan anak dimulai sejak dini, bahkan ketika si anak masih dalam kandungan. Oleh karenanya, perlu untuk menjaga kondisi emosi Ibu saat hamil, agar Ibu tidak mengalami stress, yang akhirnya berpengaruh terhadap janin. Menjaga emosi seperti halnya menghindari hal-hal negatif seperti kata-kata, kejadian, intervensi negatif dari lingkungan, sehingga emosi Ibu hamil lebih stabil.

Selasa, 03 Maret 2015

Buku Sipadecengi, Oleh-oleh dari Sulsel

Makassar, November 2014 until February 2015.

Launching Buku Sipadecengi, Makassar 26 Feb 2015. Kiri ke Kanan: Pak Syahrul (Manager BUM Desa Sipurennu), Pak Rusman (Perwakilan Kelompok Usaha Pengupasan Kepiting Ujung Parappa), Harlina (Bendahara BUM Desa Sipurennu), dan Ibu Caroline dari BAKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Indonesia Timur). 

November saya mulai menginjakkan kaki di bumi Sulawesi Selatan, tepatnya di kota pesisir Makassar. Panas matahari berikut udara berdebu menyambut kedatangan saya. Saat itu kemarau masih menerjang, hingga tambak-tambak yang saya temui kering kerontang. Jangankan air untuk tambak, di pesisir Kabupaten Pangkep yang saat itu saya datangi, kesulitan air untuk kebutuhan MCK, masak, dan minum. Namun kemarau tidak hanya menyisakan kering, di sore hari ia menyisakan pemandangan langit yang luar biasa indah. Semburat kuning keemasan dari matahari terbenam, yang seringkali mengingatkanku akan sanak saudara di kampung halaman. Juga berujar, sedang apa Mamak di kampung yang satu jam lebih lambat menjelang sore.

Saya dianugerahi pekerjaan yang luar biasa patut disyukuri. Menulis dan jalan-jalan. Jalan-jalan dalam arti harfiah, dimana saya berpindah dari daerah pesisir satu ke pesisir lainnya. Daerah itu bernama Pangkep, Barru, Maros, dan Takalar. Bahkan berkesempatan mengunjungi sebuah pulau yang terpisah dari daratan Sulsel, bernama Pulau Tanakeke. Di salah satu dusun di Pulau Tanakeke, yaitu dusun Tompotana, listrik hanya ada dari jam 7 hingga 10 malam.  Sepulang dari Pulau kami bertemu badai, langit dari arah Selatan menunjukkan awan hitam bergulung-gulung. Sembari pasrah jika itu ternyata perjalanan saya yang terakhir.

Atau perjalanan syahdu lainnya. Menuju sebuah dusun di Kabupaten Maros, Desa Nisombalia. Dusun terpencil, dimana motor yang kami naiki harus melewati jalanan berbatu membelah hamparan kawasan bekas tambak. Jangan bayangkan ada banyak rumah penduduk, tak satupun rumah penduduk kami temui. Hanya tambak-tambak yang mulai digenangi air saat musim penghujan mulai datang. Kami sampai di Dusun Kuri Caddi saat senja mulai tiba, dan pulang saat malam sudah menjelang. Menyaksikan bagaimana ombak menempas batu-batu nisan pekuburan warga dan menggenangi jalan yang kami lewati. Banjir! Tambak yang banjir saat air laut naik.

Pekerjaan ini membawa saya mengenal orang-orang desa yang menyenangkan. Hidup dengan cara sederhana, kemudian bahagia. Dan selalu mengingatkan bagaimana hidup saya sedari kecil hingga remaja saat di kampung halaman.

Sampai 26 Februari 2015 kemarin, buku berjudul “Sipadecengi” diluncurkan. “Sipadecengi” dalam Bahasa Bugis yang berarti saling membangun saling memperbaiki. Buku ini berisi tentang best practice dari program Restoring Coastal Livelihood (lihat: www.rcl.or.id). Program perbaikan penghidupan pesisir yang diinisiasi oleh Oxfam dan didanai oleh Canadian International Development Agency (CIDA) yang fokus di 4 Kabupaten pesisir di Sulsel. Sampai saat ini RCL sudah 5 tahun mendampingi warga, mendorong mereka agar ekonominya meningkat dengan memberdayakan potensi pesisir.

Walaupun saya tak hadir dalam peluncuran buku tersebut (karena sudah pulang ke Jawa), semoga buku ini bisa bermanfaat bagi warga (4 Kabupaten: Pangkep, Barru, Maros, dan Takalar), pemerintah, dan aktivis NGO. 

Ini dia penampakan bukunya :)

Kamis, 30 Oktober 2014

Optimistis Melihat Produk Lokal dari Mandiri Pasar Indonesia

14139808012126795352
Mandiri Pasar Indonesia 2014
Siang ini tak seperti biasanya. Sebelum ke kantor saya sempatkan berkunjung ke acara “Mandiri Pasar Indonesia dan Bazaar Fashion Festival 2014″ yang berlangsung di Senayan JCC. Setiap hari Transjakarta yang saya naiki memang melewati area ini.

Senin, 10 Maret 2014

Media dalam Pemilu: Independen?

Oligarki media di Indonesia ternyata sedikit banyak berpengaruh pada kehidupan perpolitikan kita. Pemilik media ramai-ramai turut berpartisipasi dalam dunia politik. Ada yang didapuk jadi cawapres, bahkan mecalonkan diri sebagai presiden di pemilu 2014. Nampak adanya simbiosis mutualisme antara pemilik media dan partai, dimana pemilik media dengan leluasa bisa mencapai ambisi politiknya, sedangkan partai mendapatkan akses yang luar biasa untuk publisitas guna meningkatkan pencitraan partai. Transaksi politik antara pemilik media dan partai ini tentu membuat independensi dan netralitas media menjadi kabur.

Rabu, 22 Januari 2014

Mengenal Tambang Lebih Dekat, Learn From The Expert




  • *esai ini saya posting di akun kompasiana untuk mengikuti Sustainable Mining Boot Camp di Nusa Tenggara. klik disini untuk membantu saya ikut campnya. Makasih :) 

    Mendapat kesempatan mengenal lebih dekat dunia pertambangan melalui programSustainable Mining Bootcamp membuat saya berteriak dalam hati “wah seriusan nih?! Jelas, gue pengen banget ikut!”

Jumat, 18 Oktober 2013

Memperkuat Produk Lokal dengan Branding

Kebijakan pasar bebas memang menjadi tantangan besar untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kebijakan Free Trade Agreement (FTA) yang disatu sisi mempermudah proses perdagangan antar negara, dimana perdagangan internasional seringkali dibatasi oleh kebijakan pajak negara biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor dan impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Dengan berlakunya kesepakatan Free Trade Agreement maka batasan-batasan itu tidak berlaku bagi negara-negara yang menyepakati kebijakan tersebut. Akan tetapi Free Trade Agreement mengharuskan Indonesia membuka pintu lebar-lebar untuk produk asing yang kemudian membanjiri pasar dalam negeri. Bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri, mulai dari produk gadget sampai mainan anak banyak yang berasal dari China.


Minggu, 13 Oktober 2013

Keterbukaan Informasi Publik, Social Media, dan Anti Korupsi.

Notulensinya bisa kamu lihat disini.


Kamis, 23 Mei 2013

Ayo Nyanyi Lagu Anak!

Bahwa media dan produk budaya, digunakan sesuai dengan usia perkembangan pemakainya.. 
www.marinyanyi.com


Mungkin banyak dari kita (termasuk saya) yang belum menyadari penggunaan media haruslah sesuai dengan usia perkembangannya. Saya dan teman-teman beberapa waktu kemarin sempat melakukan riset sederhana mengenai "Lagu Apa sih yang Sedang Trend di Anak-Anak Sekarang?" Sebuah riset yang bermula dari pertanyaan sederhana. Kemudian, saya-Bella-dan Uyuh, ditemani Gema sang videografer mewawancarai beberapa anak yang menjadi narasumber untuk riset kami.

"Halo adek...kenalan dong.." -- tiba-tiba kita jadi Sok dekat dengan si Adek kecil yang mau kami wawancara. Rata-rata, anak-anak yang kami wawancara berusia diantara 5-9 th.
"Boleh tau ga, lagu apa sih yang suka kamu nyanyiin? Misalnya kamu kalau lagi di acara ulang tahun suka nyanyi lagu apa? Atau..ketika kami lihat si anak sudah akrab dengan gadget, kami bertanya...di playlist-nya ada lagu apa aja sih? *kita jadi kepo banget gitu, dan mungkin menjadi sesuatu yang menyebalkan bagi si anak.

Selasa, 23 April 2013

Portal ACCH Sebuah Literasi Gerakan Anti Korupsi, Sudah Efektifkah?




Oleh : Asri Nuraeni (Kajian Media, Ikom, 2010)

Hari ini siapa yang tidak bosan dan muak menyaksikan berita di TV yang menyiarkan tentang koruptor-koruptor pencuri uang negara? Siapa yang tidak muak melihat koruptor A tampil di televisi bak selebriti dengan mimik muka tanpa dosa? Mereka tampil di layar tv seakan tak salah apa-apa, dengan tampilan mengundang simpati. Hari ini amat sulit membedakan mana yang benar mana yang salah, semua penuh manipulasi.

Media Sebagai Penyeimbang Kekuasaan                
Politisi, wakil rakyat, atau siapapun itu yang melakukan korupsi berarti telah menyalahgunakan kekuasaan yang dia miliki. Dan kekuasaan hanya bisa diimbangi dengan dengan kekuasaan. Maka disini, media berfungsi sebagai kekuatan penyeimbang. Dalam tema korupsi media memang berhasil menjalankan fungsi surveillance. Fungsi surveillance ini menurut Dominick yaitu ketika media dapat menginformasikan dan menyediakan berita mengenai tema terkait. Fungsi ini tentu mempunyai peran penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia, dimana fungsi surveillance mendorong munculnya partisipasi sosial. Ketika media memberitakan mengenai kasus-kasus korupsi yang ditindak oleh KPK, maka media menghadirkan spotlight bagi koruptor. Harapannya adalah koruptor dipermalukan dimata publik, dan ketika publik tahu kesalahan koruptor itu akan mengingat dalam memorinya, dan menjadi catatan kelak politisi dan wakil rakyat korup tidak akan dipilih lagi di masa mendatang.

Senin, 22 Oktober 2012

Tentang Keberpihakan #2 & Objektif #3

Tentang Independensi, Keberpihakan, dan Objektifitas

Tentang Keberpihakan #2

Seorang teman baru yang saya temui di Youth Anti Corruption Camp, (saya lupa yang ngomong siapa), Saat itu kami sedang membicarakan program komunitasnya yang melakukan advokasi bagi masyarakat yang membutuhkan. Pesan yang saya tangkap, mahasiswa itu harus berpihak. Berpihak pada masyarakat lemah. Jadi salah satu yang dimiliki oleh organisasi mahasiswa adalah keberpihakan.

Hal ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Mas Ade, dosen Matkul Media Budaya dan Masyarakat. Saat itu kami sedang membicarakan tentang sikap netral. Menurutnya, jika ada pihak yang sedang bertikai, katakanlah yang bertikai adalah raksasa dan orang yang kecil dan lemah. Jika anda netral, dan tidak memihak siapapun, sebenarnya anda sudah berpihak pada si Raksasa itu, karena dialah yang jelas-jelas akan menang. Jadi, netral dalam pandangannya, adalah memihak pada yang lemah. (make sense dengan paragraf pertama).

Tentang Independensi #1

Tentang Independensi, Keberpihakan, dan Objektif

Beberapa minggu terakhir, aku dihadapkan pada situasi yang agak membingungkan, yang membuatku mempertanyakan kembali, apa itu : Independensi, keberpihakan, dan objektif, dan bagaimana aplikasi yang seharusnya.

Tentang Independensi
Sebenarnya aku sering mendengar kata ini, apalagi di kelas-kelas yang membahas tentang media. Bahwa media itu harus independen, dan pemberitaannya cover both side. Ini teori ideal yang aku dapat dari kelas. Kemudian, suatu hari seorang teman yang aktif di majalah kampus, menyampaikan pendapatnya, dan menuliskan opininya dalam sebuah artikel di majalah kampus edisi Oktober 2012.

Gaya Hidup & Mitos Cantik Perempuan di Media

Twiggy, model yang menjadi ukuran untuk manequin

Orang-orang saat ini hidup dengan beragam gaya hidup. Gaya hidup pecinta lingkungan (green life), gaya hidup hedonis, gaya hidup agamis, dan mungkin masih banyak lagi gaya hidup yang lain. Nah, Ada juga gaya hidup perempuan-perempuan Indonesia yang mengejar Mitos Cantik yang disampaikan oleh media (Mainstream, maksudnya TV).

Sebelum jauh-jauh membahas gaya hidup, ada baiknya kita mengetahui apa arti gaya hidup itu. Gaya hidup dalam KBBI merupakan pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup/life style, dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhusuan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.

Apa hubungannya gaya hidup dengan mitos cantik perempuan?

Jumat, 21 September 2012

Feminisme, dan Tribute to Putri

Beberapa hari terakhir saya tidak melihat isu ini diberitakan di media-media besar khususnya TV. Entah saya yang memang tidak melihat, atau memang tidak dimuat. Ah, setiap media kan punya agenda setting-nya masing-masing, dan sepertinya semua media (mainstream) sedang ramai membahas pemilukada DKI Jakarta yang berlangsung (20/9/12) kemarin, yang dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ahok.

Topik ini, pertama kalinya saya ketahui ketika mengikuti kuliah Media, Jender, dan Identitas. Dosen saya Bu Eni Maryani dan Mas Lutfi, memperlihatkan video tribute to Putri. Putri adalah remaja usia 16 tahun yang nekad bunuh diri karena dituduh menjual diri dan ditangkap Polisi Syariah di Aceh. Kasus bunuh diri ini bermula dari petugas penangkapan (Wilayatul Hisbah), Langsa, Aceh ada (3/9/12). Setelah penangkapan tersebut petugas Dinas Syariat Langsa menjatuhkan tuduhan pada Putri, karena dinilai melanggar Perda Syariah yaitu menjual diri. Sumber : klik disini.

Write Short Story with Sakti Wibowo




Sakti Wibowo, seorang cerpenis dan novelis kawakan yang dilahirkan di Wonogiri, dan telah menunggu 5 tahun sebelum cerpen pertamanya dimuat di Majalah Annida,. Subhanallah, kegigihannya membuat saya kagum. Sayangnya, saya tidak sempat bertemu dengannya langsung pada pertemuan ke5 FLP, karena saya harus menghadiri sebuah rapat dan saya menjadi penanggungjawab salah satu divisi. #soksibukgue
Di pertemuan kelima itu, Mas Sakti Wibowo mengisi tentang bagaimana menulis cerpen. Dari sebuah tulisan teman saya, berikut beberapa point penting dari hasil diskusi Mas Sakti Wibowo dengan teman-teman FLP.

Self Editing



Sebuah cerpen/novel merupakan media yang pas untuk menyampaikan ideologi penulis, bahkan tanpa disadari oleh si pembaca.
Tentunya diperlukan sebuah naskah yang baik ketika diserahkan ke Penerbit. Pertemuan ini membahas tentang SELF EDITING yang tentunya sangat diperlukan, agar naskah benar-benar ready dan dilirik oleh penerbit.
Self editing adalah bagaimana ketika naskah sampai ke meja redaksi dalam keadaan sudah rapi, bersih dari thypho dan bebas dari teknik penulisan yang salah. Karena ada ratusan naskah perminggunya, bahkan ribuan naskah setiap bulannya, penting bagi naskah kita untuk hadir dengan cantik dan menarik agar naskah kitalah yang dipilih.
Bagaimana naskah agar dilirik oleh penerbit?

Menulis Skenario (Sebuah Pengantar)



Skenario merupakan blueprint sebuah film. Tugas penulis skenario adalah menyatukan/menyamakan persepsi antara produser, sutradara, dan kru film, dimana film tersebut akan diproduksi.
Proses penulisan skenario ada beberapa tahap, yaitu :
1.       Premis
2.       Sinopsis
3.       Karakterisasi
4.       Treatment
5.       Draft

Minggu, 29 Juli 2012

Ramadhan di Pare (Kampung Kursusan Bahasa Inggris)



             Sudah seyogyanya kita mengisi Bulan Ramadhan dengan kegiatan yang positif. Banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris.

Kampung Inggris, tepatnya terletak di Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Sepanjang Jalan Brawijaya dan sekitarnya kita bisa menemukan begitu banyak lembaga kursus Bahasa Inggris.  Pare terletak 25 km sebelah timur dari laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya, dan berada pada jalur Kediri-Malang dan Jalur Jombang-Kediri serta Jombang-Blitar.  Kota Pare yang ada pada ketinggian 125 meter di atas permukaan laut ini mempunyai udara yang tidak terlalu panas. Hanya saja, ketika saya berada di sana, angin berhembus sepanjang hari dan membuat kami yang belum terbiasa dengan keadaan di sana menjadi kedinginan bahkan ada beberapa yang masuk angin.
Copyright © 2014 Jurnal Asri